Setelah berkunjung
ke Doom dan mengelilingi pulau itu dalam satu hari. Terkesan bahwa pulau ini
adalah pulau yang cukup lengkap atau paling tidak pernah lengkap untuk
penghuninya. Semacam estate kecil yang didevelop sejalan dengan kepentingan Negara
Belanda waktu itu. Namun perlu diingat, kondisi mulainya bangsa Belanda
bergerak mendevelop Papua tampaknya kecil dari usaha-usaha politik yang terlalu
berat dan signifikan. Keperluan bangsa Belanda saat itu fokus pada pemanfaatan
sumber daya alam.. Masa-masa politik setelah kesulanan Tidore atau pun
perebutan kekuasaan dari sesama pengeksplor dari benua Eropa sudah terlewati.
Setelah
mendarat dengan taxi laut di pelabuhan Doom yang merupakan bagian Timur dari
Pulau ini, pandangan tertuju pada beberapa banguan , tua, yang berukuran
besar-besar beratap seng dengan konstruksi besi, beberapa ‘gudang’. Penjual
kelontong seperti sudah dibagi-bagi lapak menjual dagangannya di bagian depan
atau samping dari bangunan-bangunan ini.. Bangunan yang paling besar dengan
konstruksi besi bentang lebar adalah sebuah pasar dengan kebutuhan sayur mayor atau
bahan makanan sehari-hari. Pedagang sebagian bukan penduduk asli Papua tapi ada
juga yang dari Jawa. Saya belum menyelidiki lebih lanjut dari mana penduduk
Jawa ini berasal maksudnya bagaimana mereka bisa dating ke Papua. Yang saya
tahu ibu pedagang sayur itu berasal dari Banyuwangi.. Mengapa saya tidak bisa
menjawab secara langsung bagaimana mereka bisa berdagang di sini.. karena di
kemudian hari saya berbincang dengan salah satu penjual sayur di bagian selatan
dari Doom, beliau datang dari Jawa Timur, karena mereka mengikutiu program transmigrasi
waktu itu.. sekitar tahun 1970an. Masa presiden Soeharto.
Menyusuri
Doom dari arah Timur, kita selalu melalui bagian selatan dari Pulau. Bagian ini
adalah bagian yang paling mendatar secara topografis, bagian Utara Doom adalah
perbukitan. Perbukitan sendiri menyusur dari bagian Timur hingga ke Barat.. Ada
jalur mendatar juga di bagian Utara sekitar rentang 1 km.. Jadi jika kita
menaiki becak dari arah pelabuhan ke arah utara Doom, becak akan berhenti
paling akhir di pertigaan di bagian Utara Doom bagian Timur. Becak dari situ
akan kembali lagi kearah Doom Barat.
Setelah kita
melalui area pergudangan kita akan melalui sedikit perumahan deret di bagian
kiri dan kanan.. atau bangunan satu atap dengan dihuni beberapa keluarga dibagi
3 bagian. Satu masjid (Baiturahman?) adalah bangunan yang termasuk baru dan
mungkin diselesaikan sekitar tahun 2000an, di bagian selatan sepanjang pesisir
pantai beberapa rumah panggung di atas air berdiri agak berdempetan.
Yang kita
anggap Landmark dari pulau ini adalah lapangan Sepak bola. Saat kedatangan
kami,
Di lokasi
tersebut sedang diadakan pelatihan. Jadi menarik untuk di lihat.. Pulau Doom
kecil dengan lapangan sepakbola dengan latar belakang bukit Dooom bagian
Utara. Tidak secara langsung berhadapan
dengan perbukitan, ada sekitar 2 row rumah di bagian belakang lapangan
sepakbola setelah itu bukit dengan vegetasi cukup rimbun berada dibelakangnya.
Di depan
lapangan sepakbola (orientasi Selatan) toko-toko , atau bangunan penempatan becak
atau juga rumah tinggal, bukanlah bangunan gedung dengan batu bata. Bangunan2
cukup tua ini adalah rumah-rumah tinggal sekaligus toko. Bangunan ada yang
berteras atau juga dinding bangunan menghadap jalan tanpa pagar. Bangunan
terdiri dari kerangka kayu dengan dinding pengisi saja..
PERBANDINGAN
PULAU DOOM DENGAN LAPANGAN MONAS JAKARTA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar