Kamis, 25 Agustus 2016

Kata Pengantar



Bandung, 25 Agustus 2016

KATA PENGANTAR

Setelah beberapa tempat di Indonesia bagian Timur aku kunjungi dan juga sebagian Indonesia bagian Barat, juga membaca beberapa literature ingin rasanya aku membukukan sedikit analisis ku tentang yang disebut Asitektur. Kedengarannnya terlalu teoritis dan hanya akademisi saja yang bisa dan biasa membahasa hal itu. Namun aku berpikiran lain.. Dalam perjalanan pemikiran, aku seringkali mengaitkan Arsitektur dengan masalah kehidupan, masalah (dalam hal ini bukan problem) sehari-hari yang kita lakoni.. Belum tentu dalam bentukan bangunan berkategori eksotik, indah dan menarik secara struktural karena dalam kenyataan nya sejarah membangun di Indonesia tidak semuanya melalui tahapan berencana atau pun memiliki arti makna budaya tertentu. Bangunan biasa saja.. namun dibangun dengan baik dan ‘serius’ dalam arti berguna, the machine that works well..

Konten buku ini sebenarnya berupa paparan dan lebih banyak informasi tentang lingkungan suatu pulau yang aku kunjungi di Papua Barat. Berlanjut setelah melihat mata langsung dan kemudian menelusuri kisah-kisah penduduk setempat yang di tarik mundur ke belakang. Terasa bahwa kisah, objek-objek bangunan yang aku studi merupakan gambaran kegunaan yang panjang dari masa ke masa, yang cukup kompeten terhadap penduduknya sendiri. Di sana-sini sudah ada kerusakan memang, namun secara garis besar.. walaupun jumlah penduduk bertambah seiring dengan pertumbuhan keluarga maupun migrasi pendatang baru.. Bangunan-bangunan tersebut masih layak terpakai di samping peran penting dari hal-hal kecil seperti ketersediaan air, listrik, sistem sanitasi (walaupun ini menjadi masalah pelik dimasa kini), pengelolaan sampah, ketersediaan bahan makanan dan transportasi yang memadai.

Secara periodik Doom menjadi tempat tinggal ataupun berkumpulnya kembali keluarga. Dalam siklus hidup, Doom pun mempunyai lokasi makam yang cukup penting.. tentu bagi penduduk yang tinggal lama atau bahkan lahir di tempat ini. Beberapa pesohor dari Papua Barat yang terkenal secara bisnis (tidak di Indonesia Barat) pernah lahir dan besar di pulau kecil ini.
Supaya pengetahuan Arsitektur itu bukan sesuatu yang ekslusif, konten dari buku ini dibuat sederhana saja.. Seperti pandangan mata , rekam interview, kompilasi dari data lewat internet dan juga beberapa referensi buku bacaan yang pernah beringgungan dengan Doom dan Papua barat baik secara langsung maupun tidak langsung..
Mudah-mudahan bisa dinikmati.

Bun Yong

Senin, 22 Agustus 2016

Catatan 2


Bandung, 21 Agustus 2016

Sesampai di Doom, pendangan yang berbeda yang kami2 lihat adalah banyaknya deretan becak berderet di tepi jalan pelabuhan. Becak yang menantikan membawa penumpang untuk kelililng Doom.

Jalan di Doom hanya berkisar 2.4 meter saja. Cukup untuk berpapasan dua becak dalam dua arah perjalanan. Di tepi aspal jalan ada sekita 50cm tanah  berumput dan kemudian selebar 40cm an saluran air hujan. Banyak saluran air hujan atau got ini masih dibuat dari jaman belanda waktu itu.. Perlu di ingat.. Papua baru dialihkan ke pemerintahan republik Indonesia di tahun 1962. 17 tahun setelah kemerdekaan Republik Indonesia yang dirintis di Indonesia bagian Barat.  Pagar-pagar kavling rumah yang masih terbuat dari kayu dan kawat anyam atau kawat duri membuat suasana terasa kembali ke jaman lalu.

Tidak ada rumah dalam bentuk gedung dengan konstruksi penuh secara bata atau bangunan bertingkat. Kebanyakan adalah bangunan satu lantai3 jarang sekali bangunan dua lantai.
Suasana yang terbangun dari kumpulan bangunan tersebut, proporsi ‘jalan pulau’ yang kecil itu yang membuat saya tertearik untuk merekam apa yang ada di Doom.

Diskusi pun terjadi dalam perjalanan menumpang becak itu. Waktu itu kami berdua hanya turis.. Kami hanya berkenalan dengan penduduk setempat untuk sekedar bertanya dari mana asal, pekerjaan dan bagaimanan mengenai pulau Doom ini. Interaksi antara masyrakat di Doom lebih terasa intim dibandingkan dengan ketika kami berjalan di Sorong. Sorong adalah sebuah kota. Di sini mungkin penduduk masih saling kenal dan saling bersapa..

Jalur selatan Doom waktu tiu kita lalui, kemudian melintas ke arah utara, daerah pebukitan. Satu penanda yang terasa ‘antik’ adalah adanya lapangan sepakbola di tengah-tengah pulau. Beberapa pemuda sedang berlatih dan melakukan pertandingan. Di bagian selatan dari lapangan sepak bola , bangunan-bangunan satu lantai dengan atap terpisah antara satu bangunan dan yang lain menghadap kea rah lapangan itu. Konstuksi bangunan masih terdiri dari rangka utama kayu dengan isian adikan diantaranya. Kuda-kuda dari kayu dengan penutup atap seng. Seng yang berkarat termakan waktu. Bangunan –bangunan ini dekat sekali dengan batas air laut sebenarnya.. Bahkan beberapa bangunan ada yang ditambahkan ke belakang dengan kayu-kayu pancang ke dasar laut. Rumah bagian belakang berbentuk panggung.

Tidak ada pemikiran lebih jauh untuk mencatata pulau ini sebagai satu lingkup rekonstruksi sepulang kami berdua ke Bandung. Hanya sekilas wacana kemungkinan-kemungkinan dari apa yang kita liat dari kunjungan pertama itu.
Namun ada satu orang yang sangat membantu kami berkomunikasi. Waktu itu menjadi sahabat sebentar dalam perjalanan kami ke Waisai (Ibukota kabupaten kepulauan Raja Ampat). Oom Leo Donald Warmasen.
Sepulang kami di Bandung, beliau mengontak kami lewat sms. Sekedar menanyakan kabar dan melontarkan lelucon-lelucon kecil. Ingatan waktu kita bersama bercerita tentang masa muda Oom sebagai seorang petugas di kapal laut. Kapal Laut Santa yang mengangkut barang-barang dari Doom ke luar Negeri.
Ditambah dengan ingatan kami tentang bunker-bunker eks tentara Jepang yang kami liat dan sedikit referensi dari catatan dan foto ketika Belanda merapat di sana, menjalankan roda pemerintahan dan menjadikan Sorong sebagai industri pengeboran minyak , bermula dari itu, saya memberanikan diri untuk menyusun buku ini.





(2)Perjalanan saya pertama kali ke Pulau itu bersama kawan saya yang seorang fotografer. Tujuan perjalalan kita tadinya adalah meliput sendiri daerah sekitar Raja Ampat. Yang terkenal sulit dijangkau dan mahal itu. Namun turis-turis dari Jakarta yang berkecukupan, harusnya sudah banyak lebih dulu melancong kesini.. Mereka mengikuti program tour berkeliling pulau dan menyelam. Nyata benat bening nya air dan biru nya langit di kawasan timur ini.
(3)Tidak semua bangunan di Doom adalah bangunan tua sebenarnya. Pembangunan secara pribadi-pribadi atau juga suatu institusi seperti bangunan pemerintahan, atau sekolah, ada juga yang dibangun dengan konstruksi modern. Untuk bangunan-bangunan kategori baru ini kebanyakan dibangun di kisaran tahun 1990 an ke atas.

Kamis, 18 Agustus 2016

Catatan 1



Bandung, 18 Agustus 2016

Doom, doom, doom,doom…. teriakan anak kecil dan pemilik kapal memanggil-manggil calon penumpang dari tepian dermaga penyeberangan Sorong Doom.. Kapal-kapal kecil dengan satu mesin selebar 2 orang duduk dan sekitar 7  sampai delapan baris di saat-saat pagi selalu penuh..
Dari Sorong orang menyeberang ke Doom. Pulau kecil yang tampak jelas di depan mata. Matahari pagi agak condong dari arah belakang kepala kita di ujung bagian kepala burung daratan Papua itu. 

Sementara di samping area pelabuhan penyeberangan tertambat kapal  barang berukuran besar, mengangkut barang-barang dari bagian barat Indonesia, dan sebaliknya dari Sorong ke arah barat.
Cukup dengan 10 ribu rupiah (2015) saya bayar sebelum naik ke dalam perahu. Penumpang yang lebih dahulu berjalan bungkuk menuju bagian belakang kapal dan penumpang berikutnya di depannya. Perahu bertudung di bagian atas, setelah penumpang penuh pengemudi kapal naik berjalan di atas atap kapal menuju ke arah belakang, posisi mesin.. 
Mesin perahu dijalankan, perahu diarahkan mundur sebelum kemudian berputar, buritan menghadap pulau di depan mata, pulau Doom(1).

Sekira 8 menit kita menyeberang selat yang dalam. Pagi siang maupun malam riak air antara Doom dan Sorong adalah gelombang-gelombang kecil saja.. Jarang terdapat ombak besar. Namun terasa arus air di kedalaman, cukup kuat.
Sekilas begitulah perkenalan saya secara awal dengan pulau kecil ini, ada baiknya saya ceritakan dulu sedikit ketertarikan saya terhadap pulau ini sebagai latar belakang penulisan..
Saya sendiri hanya lah seorang praktisi dan usahawan kecil saja di tempat yang jauh di posisi barat. Perjalanan menuju Doom di tahun 2013 harus melalui transit di Ujung pandang , sebelum kemudian ke Bandara Soekarno Hatta kemudian ke Bandung, dimana saya tinggal dan berusaha.

Cerita tentang Raja Ampat bagian dari kabupaten Sorong yang berlokasi kepulauan lebih dulu dirasa menarik dan eksotis. Itu yang pada awalnya mendorong perjalanan saya ke arah Papua.. Diharapkan saya menemukan langit yang jernih dan bersih.. Lautan pesisir yang cukup dalam yang bening dan masih terlihat jelas terumbu karang.

Sorong sendiri sudah cukup maju sekarang.. di tahun 2013an di sekitar runway bandara masih bersliweran kambing-kambing piaraan dari penduduk sekitar. Ini terlihat lucu pada saat kita mendaratkan pesawat. Namun sekarang (2016) Sorong telah punya bandara bertaraf internasinal. Pengambilan barang di bagasi sudah melalui roda berjalan , 2 tahun sebelumnya masih menggunakan kereta dorong.






(1)             Doom begitu sebutannya dalam bahasa Indonesia secara sederhana akan dituliskan Dum.. namun dalam sebutannya memang seperti ‘oo’ panjang .. Memang seperti cara baca dalam bahasa Inggris ‘doom’. Arti yang buruk sebenarnya namun jika kita mundurkan waku ke belakang.. sebutan itu ditujukan kepada nama sebuah tanaman buah yang menurut orang suk Moi , suku Papua di daratan Sorong adalah tanaman-tanaman yang banyak tumbuh di daerah pulau ini.. Saat sekarang tidak ditemui tanaman tersebut di Doom.