Rabu, 28 September 2016

SEKILAS TENTANG PULAU DOOM SAAT INI (3)



29/9/2016

Berpenduduk sekitar 9500 jiwa dengan luas wilayah sekitar 3.5km2 bagian selatan dari pulau Doom adalah daerah yang cukup padat. Meskipun kegiatan utama penduduk sehari-hari tidak seluruhnya di pulau Doom, namun di beberapa bagian area pemukiman terlihat cukup rapat. Namun sebenarnya tidak banyak juga pembangunan bangunan baru di pulau Doom mengingat sulitnya juga ketersediaan bahan baku yang harus melalui proses pengangkutan laut. Sebagian penduduk pendatang terutama yang berhubungan dengan laut, mendirikan rumah-rumah panggung di sepanjang pesisir pantai berbahan kayu. Hanya beberapa bangunan dengan kolom praktis, bata dan kusen2 kayu baru, terutama bangunan2 pemerintah, renovasi sekolah atau juga rumah pribadi di Doom daratan.
Perkiraan saya ada sekitar 80% masih dengan konstruksi bangunan lama, jaman pemerintahan Belanda. 

Sorong yang berjarak kurang dari 2km dari Sorong tampak seperti kota yang sibuk dari arah Doom. Kapal-kapal Pelni lintas Sulawesi dan Jawa atau kea rah bagian Timur dari Papua adalah angkutan laut yang penting, yang dalam sejarah Papua Barat ini adalah jalur yang sudah lama dirintis dari jaman Belanda.. Mengapa kapal-kapal besar dengan lebar 23 meter dan panjang sekitar 143 meter itu bisa masuk ke perairan selat Sorong Doom? Karena Selat Doom Sorong cukup dalam. Bagian terdalam adalah sekitar 30meter di bawah permukaan air laut.

Bukit-bukit di Doom bagian Utara adalah bukit-bukit dengan batuan yang cukup keras berkadar kapur. Ini terlihat dari batuan yang berwarna putih dan adak kemerahan, tidak hitam. Beberapa penduduk di Doom bagian Barat menambang baru tersebut untuk dijadikan bahan bangunan.
Pulau Doom tidak memiliki sungai atau mata air. Namun penggunaan sumur sebagai sumber air tawar banyak dilakukan warga Doom untuk mendapatkan air bersih. Beberapa sumur berkwalitas cukup bagus dan berair bening.  Beberapa warga menampung air hujan untuk kebutuhan cuci dan mandi (?) Untuk masalah sampah, penduduk mengumpulkannya sendiri dan membakarnya di halaman.. tidak ada pemungutan sampah secara komunal dan ini pula yang membuat permasalahan terutama menumpuknya sampah2 di sekitar pantai.
 
Got atau riol yang dibuat pada jaman Belanda masih tampak secara fisik saat ini dan masih berfungsi. Terlihat pula cara penataan jalan cara lama yang terlihat dari ukuran berm, riol , dan posisi pagar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar