Bandung, 18 Agustus 2016
Doom, doom, doom,doom…. teriakan anak kecil dan pemilik
kapal memanggil-manggil calon penumpang dari tepian dermaga penyeberangan
Sorong Doom.. Kapal-kapal kecil dengan satu mesin selebar 2 orang duduk dan
sekitar 7 sampai delapan baris di
saat-saat pagi selalu penuh..
Dari Sorong orang menyeberang ke Doom. Pulau kecil yang
tampak jelas di depan mata. Matahari pagi agak condong dari arah belakang
kepala kita di ujung bagian kepala burung daratan Papua itu.
Sementara di samping
area pelabuhan penyeberangan tertambat kapal
barang berukuran besar, mengangkut barang-barang dari bagian barat
Indonesia, dan sebaliknya dari Sorong ke arah barat.
Cukup dengan 10 ribu rupiah (2015) saya bayar sebelum naik
ke dalam perahu. Penumpang yang lebih dahulu berjalan bungkuk menuju bagian
belakang kapal dan penumpang berikutnya di depannya. Perahu bertudung di bagian
atas, setelah penumpang penuh pengemudi kapal naik berjalan di atas atap kapal
menuju ke arah belakang, posisi mesin..
Mesin perahu dijalankan, perahu diarahkan mundur sebelum
kemudian berputar, buritan menghadap pulau di depan mata, pulau Doom(1).
Sekira 8 menit kita menyeberang selat yang dalam. Pagi siang
maupun malam riak air antara Doom dan Sorong adalah gelombang-gelombang kecil
saja.. Jarang terdapat ombak besar. Namun terasa arus air di kedalaman, cukup
kuat.
Sekilas begitulah perkenalan saya secara awal dengan pulau
kecil ini, ada baiknya saya ceritakan dulu sedikit ketertarikan saya terhadap
pulau ini sebagai latar belakang penulisan..
Saya sendiri hanya lah seorang praktisi dan usahawan kecil
saja di tempat yang jauh di posisi barat. Perjalanan menuju Doom di tahun 2013
harus melalui transit di Ujung pandang , sebelum kemudian ke Bandara Soekarno
Hatta kemudian ke Bandung, dimana saya tinggal dan berusaha.
Cerita tentang Raja Ampat bagian dari kabupaten Sorong yang
berlokasi kepulauan lebih dulu dirasa menarik dan eksotis. Itu yang pada
awalnya mendorong perjalanan saya ke arah Papua.. Diharapkan saya menemukan
langit yang jernih dan bersih.. Lautan pesisir yang cukup dalam yang bening dan
masih terlihat jelas terumbu karang.
Sorong sendiri sudah cukup maju sekarang.. di tahun 2013an
di sekitar runway bandara masih bersliweran kambing-kambing piaraan dari
penduduk sekitar. Ini terlihat lucu pada saat kita mendaratkan pesawat. Namun
sekarang (2016) Sorong telah punya bandara bertaraf internasinal. Pengambilan
barang di bagasi sudah melalui roda berjalan , 2 tahun sebelumnya masih
menggunakan kereta dorong.
(1)
Doom begitu sebutannya dalam bahasa
Indonesia secara sederhana akan dituliskan Dum.. namun dalam sebutannya memang
seperti ‘oo’ panjang .. Memang seperti cara baca dalam bahasa Inggris ‘doom’. Arti yang buruk sebenarnya namun
jika kita mundurkan waku ke belakang.. sebutan itu ditujukan kepada nama sebuah
tanaman buah yang menurut orang suk Moi , suku Papua di daratan Sorong adalah
tanaman-tanaman yang banyak tumbuh di daerah pulau ini.. Saat sekarang tidak
ditemui tanaman tersebut di Doom.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar